https://drive.google.com/file/d/1IpA70ea5bj0nLzFEYC7j1C685Gcg4xfC/view?usp=sharing

Cari Blog Ini

Jumat, 01 Mei 2015

Corporate Culture (Organisasi Pendidikan ibarat sebuah Aliran Air) 5



Tulisan berikut ini adalah kelanjutan dari tulisan pada http://leonardusnana.blogspot.com/2015/04/corporate-culture-profit-versus.html
Corporate Culture
Organisasi Pendidikan ibarat sebuah Stream (aliran air)
Corporate culture merupakan sebuah tatanan pelayanan yang menjadi rujukan bagi setiap organisasi untuk membentuk dan berbenah diri guna menemukan bentuk dan cara pelayanannya. Dengan demikian setiap organisasi yang memiliki budaya pelayanan yang baik akan menjadi model/rujukan dan pusat pelayanan bagi setiap orang yang membutuhkan.
Corporate culture atau budaya organisasi yang mengutamakan tata pelayanan prima dalam bidang pendidikan telah menjadi hal yang biasa bagi sekolah-sekolah yang dikelola oleh organisasi pendidikan Katolik. Oleh sebab itu sekolah-sekolah Katolik telah menjadi rujukan dan pusat belajar. Banyak tokoh dunia telah dilahirkan darinya.
Organisasi pendidikan Katolik dapat menjadi rujukan belajar dan pusat pembangunan sumber daya manusia Indonesia bukan karena kekuatan modal dan teknologi. Tetapi karena organisasi pendidikan Katolik selalu mendasarkan pelayanannya pada sabda Tuhan seperti beberapa ayat suci yang telah digambarkan diatas.
Salah satu roh ayat suci lain yang telah menjadi landasan pelayanan pendidikan ditemukan pada kitab Jeremiah. Jeremiah 17:8 memberi pemahaman bahwa organisasi pendidikan katolik ibarat sebuah Aliran Air karena itu pohon apapun yang tumbuh didekatnya akan mengirimkan akarnya ke dalam air. Pohon tersebut tidak akan pernah kuatir dan takut saat kemarau datang atau tidak turun hujan sebab daunnya tetap hijau dan terus menghasilkan buah.
Sama seperti pohon yang bertumbuh sepanjang Aliran Air, organisasi pendidikan katolik tidak hanya menjadi rujukan dan pusat belajar bagi siswa tetapi juga rujukan belajar dan karya bagi guru dan karyawan serta model bagi organisasi lain yang sejenis. Mereka yang belajar dan berkarir pada organisasi pendidikan katolik umumnya mengalami kemajuan luar biasa karena kebanyakan organisasi pendidikan katolik menempatkan pelayanan dan kesejahteraan sebagai priority melalui hal-hal berikut:
1.     Menempatkan diri sebagai pusat dan sumber belajar dan berkarya yang menyenangkan bagi setiap orang seperti sumber air bagi setiap pohon yang bertumbuh didekatnya. Caranya dengan terus meningkatkan kualitas organisasi pendidikan itu sendiri melalui sentuhan management professional pada:
a.      Tata kelola Keuangan yang baik (berbasis akuntansi modern dan transparan).
b.     Penguatan Human Resources melalui layanan bimbingan, pendidikan, pelatihan dan pemberian imbal jasa yang pantas (kesejahteraan).
c.      Tata kelola Asset yang baik melalui penguasaan, pemeliharaan dan penyediaan peralatan pendidikan yang modern dan updated.
2.     Membangun hubungan dengan siswa bukan sebagai objek didik tetapi mitra belajar yang butuh kenyamanan, pendampingan, dididikan dan pelayanan dalam belajar.
3.     Membangun hubungan dengan guru dan karyawan sebagai mitra kerja dan memfasilitasi mereka untuk memberdayakan diri melalui belajar dan karya guna meningkatkan karir dan meraih sebuah pencapaian bersama serta memenuhi kebutuhan hidup seperti pangan-sandang-papan dan pendidikan.
Kini Corporate culture dalam bidang pendidikan seperti yang diuraikan diatas telah menjadi model dan diadopsi oleh lembaga-lembaga non Katolik. Kita bisa melihatnya dari munculnya sekolah-sekolah swasta ternama berbasis agama (Islam, dll) dan atau sekolah swasta sekuler. Tanpa disadari, keberhasilan mereka tentu tidak terlepas dari prinsip dan nilai yang sama seperti yang tersirat dalam Jeremia 17:8 yang berbunyi whatever plant grows near the stream will send out its roots to the water. It is not afraid when the hot weather comes because its leaves stay green; it has no worries when there is no rain; it keeps on bearing fruit (Jeremiah 17:8).
Namun jika organisai pendidikan atau yayasan mementingkan profit bukan prosperity (kesejahteraan) maka kita akan menemukan hal-hal seperti berikut:
1.     Tidak ada tata kelola keuangan dan asset berbasis akuntasi modern dan trasnparan.
2.     Kurang tersedia fasilitas belajar seperti sarana dan prasarana belajar yang memadai.
3.     Kurang pelayanan, pendampingan dan didikan yang optimal dalam belajar sehingga para siswa bertumbuh menjadi pribadi yang bodoh dan nakal.
4.     Kurangnya layanan bagi kesejahteraan sehingga tenaga kerja (guru dan pegawai) tidak bekerja optimal karena harus memikirkan dan mencari penghasilan tambahan bagi keluarga, pendidikan anak dan hari tua.
5.     Hasilnya adalah organisai pendidikan atau yayasan tidak akan memiliki sekolah yang unggul dengan siswa-siswi berkualitas dan tenaga kerja (guru dan karyawan) yang sejahtera dan credible (cerdas, professional, peduli dan kasih).


Please visit us at your next chance

LI AN MOEN ANA ATUK BIJAEL

  LI AN MOEN ANA ATUK BIJAEL 1.      When you are traveling around Timor, especially at the district of north middle Timor, you will be fa...