https://drive.google.com/file/d/1IpA70ea5bj0nLzFEYC7j1C685Gcg4xfC/view?usp=sharing

Cari Blog Ini

Minggu, 10 Februari 2013

Seven Habits of Highly Effective People


ASAHLAH GERGAJI (DIRI) ANDA
By Leonardus Nana
Dalam bukunya “Seven Habits of Highly Effective People, Stephen R Covey mengemukakan Tujuh kebiasaan efektif yang sangat aspiratif dan inspiratif berikut:
1)      Be proactive, janganlah menanti orang lain tetapi andalah yang harus proaktif untuk memulai, menuntun dan mengendalikan lingkungan dibanding situasi sekelilingmu yang mengendalikanmu.
2)       Begin with the end in mind, memulailah sesuatu dengan orientasi pada hasil atau tujuan diri atau disebut kepemimpinan pribadi. Hal ini menolong anda berkonsentrasi dan mempertimbangkan segala konsekwensinya sebelum bertindak, sehingga dapat produktif dan berhasil.
3)      Put first things first, dahulukan Yang Utama atau mempersiapkan diri secara matang terlebih dahulu (manajemen pribadi) untuk mengimplementasikan dan mengelola kebiasaan no.2 yang bersifat mental, dan kebiasaan no.3 bersifat fisik.
4)      Think win-win, berpikir menang-menang atau kepemimpinan antar pribadi. Karena sasaran bergantung kepada hubungan dan kerjasama dengan lainnya, maka semua perlu mendapatkan bagian yang adil dan menguntungkan,
5)      Seek first to understand and then to be understood, Berusaha memahami dulu, baru minta dipahami. Komunikasi adalah bagian penting, dan seperti analogi “diagnosis dulu sebelum memberikan resep”.
6)      Synergize, wujudkan sinergi/kerjasama yang kreatif. Kekuatan kerjasama lebih besar dari upaya per bagiannya, jadi galilah potensi dan kebaikan konstribusi orang lain.
7)      Sharpen the saw, asahlah “Gergaji” keseimbangan dan pembaharuan diri guna memicu pertumbuhan dan perkembangan kebiasaan baik lainnya.
Siapa pun pasti sadar bahwa Ke Tujuh Kebiasaan Efektif diatas sungguh luar biasa karena kandungan inspirasi dan aspirasinya mampu menuntun orang saat mencari kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat. Oleh karena itu siapa memiliki dan menjalankannya pasti sukses. Anda sudah memiliki dan melaksanakan Tujuh Kebiasaan Efektif diatas? Tujuh Kebiasaan Efektif diatas kelihatan mudah dimengerti, tetapi belum tentu mudah dilaksanakan. Tidak mungkin melaksanakan satu kebiasaan dan mengabaikan yang lain. Karena diantara satu kebiasaan dan kebiasaan lainnya saling bersinergi. Kebiasaan 1, 2 dan 3 menuntut seseorang untuk melihat kedalam diri guna memenangkan diri bagi pembentukan dan perkembangan karakternya. Kebiasaan 4, 5 dan 6 memberdayakan seseoang untuk membangun komunikasi dan kerjasama dengan Publik secara mutual. Sedangkan Kebiasaan ke 7 (Asahlah “Gergaji”) adalah sebuah upaya pencerahan dan pembaharuan diri dalam bentuk: spiritual, mental, fisik dan sosial/emosional, yang bila terawat dan bertumbuh baik akan memberi penajaman khusus bagi tercapainya sasaran kebiasaan pertama hingga ke enam.

ASAH GERGAJI (DIRI)
Mencermati pentingnya kebiasaan ke 7 (Asah Gergaji) bagi kebiasaan yang lain, maka tulisan ini mengambil focus kajian pada kebiasaan ke 7 (Asah Gergaji).
Hal pertama yang harus dipahami adalah Apa Itu Gergaji. Gergaji adalah sebuah alat pertukangan yang dimanfaatkan untuk memotong sesuatu. Alat Gergaji harus selalu diasah agar terpelihara ketajamannya. Dengan Gergaji yang tajam, seseorang dapat bekerja dengan baik dan mudah menyelesaikan pekerjaaan.
Kemudian “Apa Itu Asah Gergaji. Asah atau mengasah Gergaji adalah usaha menajamkan alat potong Gergaji. Apakah seorang Siswa, Guru atau Pekerja memerlukan gergaji? Tentu tidak! Namun bagi mereka, Gergaji adalah metamorfosis dari apa yang dikenal dengan KEAHLIAN, KECAKAPAN, KETRAMPILAN atau NILAI. Gergaji bisa ditajamkan dengan diasah pada sebuah Batu Asah, lalu bagaimana menajamkan KEAHLIAN, KECAKAPAN, KETRAMPILAN atau NILAI?

MENGASAH (GERGAJI ) DIRI
Manusia sudah memiliki kekayaan diri berupa Keahlian, Kecakapan, Ketrampilan atau Nilai. Namun, kekayaan diri tersebut sering tidak berfungsi optimal jika tidak diasah atau difitalisasi. Proses mengasah diri biasa dilakukan melalui Pendidikan. Apa itu mengasah Diri? Mengasah (Gergaji) Diri adalah proses pencerahan dan pembaharuan diri dalam bentuk spiritual, mental, fisik dan sosial/emosional guna mempertajam pengetahuan, ketrampilan, sifat atau nilai tertentu. Harapannya, setelah pribadinya tercerahkan dan terbaharui, seseorang dapat memiliki kecerdasan yang optimal, moral yang mulia dan ketahanan mental yang kuat serta berkarakter baik dan terpuji dalam menjalani kehidupannya sekarang dan kelak.
Mengasah (Gergaji) Diri dapat dilakukan umumnya melalui belajar, pengalaman atau pengajaran serta membangun hubungan yang dapat menciptakan sebuah pembaharuan pada pola pikir, sikap dan tingkah laku.

Tujuan Mengasah (Gergaji) Diri

Untuk apa mengasah (Gergaji) Diri? Seseorang harus mengasah diri untuk mendapatkan kemampuan eksekusi, yaitu sebuah keahlian menjalankan sebuah tindakan yang tepat sasaran dan tepat waktu. Seseorang yang berhasil Mengasah (Gergaji) Diri memiliki kemampuan memformulasikan pandangan terhadap apa yang hendak dikerjakan dan apa yang hendak dicapai darinya. Juga dapat merekonstruksi kembali pandangan diri terhadap hal-hal penghambat (negatif) menjadi potensi yang mendorong kemajuan.

PENDIDIKAN BATU ASAH GERGAJI

Setiap orang diyakini memiliki PENGETAHUAN, KECAKAPAN KEAHLIAN, KETRAMPILAN atau NILAI tertentu.
 Pendidikan adalah sebuah pembelajaran dan pelatihan sistematis guna mendapatkan Pengetahuan, Kecakapan, Keahlian, dan Ketrampilan serta Nilai. Pendidikan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Pendidikan dapat dimulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga atau masyarakat. Tujuan dari Pendidikan adalah untuk memberdayakan seseorang mengembangkan kemampuan dan kapasitas diri guna mengasah dan meningkatkan kualitas diri dalam kecerdasan, moral, ketahanan mental dan karakter. Proses mengasah dan meningkatkan kualitas diri inilah yang disebut Asah Gergaji (diri).

Belajar Mengasah (Gergaji) Diri

Tuhan menganugerahi manusia dengan akal budi; sebuah anugrah yang dapat membedakan manusia dari ciptaan yang lain. Akal budi mengandung semangat ingin tahu (Spirit of Curiosity); sebuah semangat yang membuat manusia terus berkembang dari makluk yang primitive menjadi manusia modern. Berkembang dari makluk yang lemah dalam fisik menjadi pribadi superior. Superiority manusia terbentuk dari ketekunan untuk mengisi diri dengan ilmu/pengetahuan, ketrampilan, sikap atau nilai guna mengembangkan diri lebih baik.

Apa itu belajar Mengasah Gergaji (Mengasah diri)?

Manusia memiliki hasrat untuk belajar, seperti tertera dalam ayat suci: Intelligent people are always eager and ready to learn – Proverb 18:15. Tujuan belajar adalah mengisi diri dengan pengetahuan, ketrampilan, sikap atau nilai. Proses pengisian diri ini dapat dilakukan melaui Pendidikan.
Pendidikan memberi ruang, dan waktu bagi setiap orang untuk mengasah diri secara terencana dan systematis melalui pembelajaran, pengalaman atau pengajaran serta membangun hubungan. Oleh karena itu Proses Mengasah diri melalui Pendidikan sangat penting dan tidak dapat ditolak. Karena dapat menciptakan sebuah pembaharuan pola pikir, sikap dan tingkah-laku yang meneguhkan, terukur dan spesifik.

Dengan demikian sama seperti sebuah Gergaji yang tumpul dapat ditajamkan lagi melalui Proses Pengasahan, Pendidikan dapat memberdayakan setiap individu memformulasikan sebuah tatanan mental baru atau memperbaharui tatanan mental sebelumnya.
Artinya bahwa Proses Pendidikan memberikan orang sebuah pengharapan dan orang berpengharapan sesungguhnya tak pernah meninggalkan apa yang ia pelajari. Dia mencintai didikan dan selalu siap menerimanya sebagai bagian dari hidupnya. Mengapa? Karena Pendidikan adalah sebuah proses pembelajaran yang dapat memberi nilai dan mendorong perubahan tingkah laku jangka panjang; proses yang dapat membentuk setiap pribadi menjadi manusia seutuhnya; demikian ada ayat suci berbunyi: Always remember what you have learned. Your education is your life. Guard it well. Proverb 4:13

Mengapa Perlu Belajar Mengasah (Gergaji) Diri?

Setiap orang mempunyai perasaan selalu berkekurangan (tidak sempurna) dalam segala hal dan ingin memenuhinya melalui belajar. Belajar adalah sebuah usaha mencurahkan tenaga, pikiran dan waktu untuk mengisi diri dengan hal-hal (pengetahuan) positif yang memberdayakan.
Guna mengisi diri secara optimal, seseorang mulanya harus mengosongkan diri seperti seorang Bayi yang dianggap belum memiliki sesuatu. Proses pengosongan diri ini akan memberi ruang bagi semua hal yang baik untuk membentuk dan memberdayakan diri. Sebab ketika kita berdaya, kita mampu melakukan sesuatu yang terbaik bagi hidup dan kehidupan seperti ditegaskan ayat suci ini: Be like newborn babies, always thirsty for the pure spiritual milk, so that by drinking it, you may grow up and be saved. 1Peter 2:2

Mengasah (Gergaji) Diri untuk Ilmu dan Hikmat

Orang yang belajar atau mengasah diri otomatis akan bertumbuh dan orang yang bertumbuh memiliki kemampuan untuk berkembang. Kemudian, orang yang berkembang memiliki kapasitas untuk melakukan sesuatu. Selanjutnya orang yang bisa melakukan sesuatu memiliki hasrat untuk berbagi (memberi) dengan orang lain. Namun, tentu ia harus terlebih dahulu berbagi dengan diri sendiri. 

Adalah omong kosong jika seseorang dapat berbagi (mengasihi) dengan orang lain sebelum ia sendiri mengetahui bagaimana menyenangkan dirinya. Hal ini dengan tegas dinyatakan dalam ayat suci berikut: “Do ourselves a favor and learn all we can; then remember or do what we learn and we will prosper.” – proverb 19:8

Seseorang yang engan berbagi sesungguhnya tak memiliki apa-apa karena tidak mampu mendapatkan sesuatu dalam belajarnya. Ia hanya bertumbuh menjadi pribadi yang merasa pintar dan berhikmat dalam kebodohannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, tapi hanya berangan-angan tentang sesuatu yang sebetulnya tidak ia ketahui, seperti dinyatakan dalam ayat suci: “Clever person is wise because he knows what to do, but stupid person is foolish because he only thinks he knows”-Proverb 14:8

Dalam belajar, kita sesungguhnya tak hanya mengisi diri guna mendapatkan keahlian teknis saja tetapi juga kualitas Iman (Hikmat). Karena ilmu pengetahuan dapat memberi keahliah (skill) yang akan membuat langkah kita maju dan terus maju demi pencapaian yang lebih baik. Sedangkan Iman akan memberi hikmat yang akan membentuk dan menuntun karakter moral yang akan membuat langkah kita focus (terarah & teratur) dan tak tersesat, dan juga Iman berperan meningkatkan harkat dan martabat.

Oleh karena itu carilah ilmu setinggi-tingginya dan hikmat sdalam-dalamnya selagi hidup. Karena orang berilmu memiliki kecerdasan pengetahuan, pengertian (empati) dan ketrampilan. Sedangkan orang berhikmat memiliki kecerdasan moral, ketahanan mental dan karakter yang dapat menuntun seseorang dalam mengatasi persoalan-persoalan hidup. Orang berilmu, dan berhikmat akan senantiasa menikmati hidupannya karena ia akan terus memanfaatkan kesempatannya untuk belajar mengembangkan diri guna terus maju. Selain itu, dia tak akan pernah terjerumus dalam masalah dan terjebak godaan hidup karena dia telah cukup cerdas dalam mengatasinya seperti tertulis dalam ayat suci: Sensible people will see trouble coming and avoid it, but unthinking person will walk right into it and regret it later- Proverb 22:3

Mengapa selain mencari Ilmu, seseorang juga dituntut untuk mencari Hikmat lewat Pendidikan? Orang berilmu belum tentu memiliki pengertian dan hikmat, tetapi orang berhikmat pasti memiliki ilmu dan pengertian. Hikmat yang didapat lewat belajar merupakan Harta Karung yang Tuhan siapkan sebagai tuntunan. Sebuah tuntunan bagi setiap pribadi untuk mengunakan ilmu dan pengetian guna keluar dari kegelapan dan kekuatiran dan berjalan dalam terang seperti tertuang dalam ayat-ayat suci:
1.      Hikmat memelihara setiap orang yang mencarinya dan menaikan martabat mereka yang memilikinya (Sirach 4:11)
2.      Hikmat akan memberi pencerahan bahwa kita sebetulnya tidak memiliki kemampuan cukup untuk menjalani dan mengatasi semua persoalan hidup (Sirach 4:17)
3.      Hikmat memberi Pengharapan untuk tetap bertekun dalam kehidupan yang sedang dijalani dan tidak perlu mencemaskan apa yang akan dihadapi di masa depan (Mathew 6: 34)

Dari mana belajar Mengasah (Gergaji) Diri?

Segala sesuatu yang ada disekitar kita adalah sumber yang baik bagi proses belajar berkelanjutan. Pengalaman dan pergaulan juga dapat menjadi sumber belajar yang baik. Ini berarti kita berkesempatan untuk belajar pada apa saja, dari mana saja dan dengan siapa saja. Sebab semua itu adalah sumber belajar yang memberi pemahaman, peneguhan (kekuatan) dan pengertian. Sumua sumber belajar tersebut akan dapat memberi tuntunan untuk mencapai kedamaian, kesejahteraan serta kehidupan yang sempurna, seperti tertuang dalam ayat suci: “Learn where understanding, strength and insight are to be found. Then you will know where to find a long and full life, light to guide you and peace.”-Baruch 3:14

Belajar sesungguhnya menuntut kemampuan membuka diri untuk menerima semua hal (informasi, ide, gagasan, pengetahuan dan nilai) yang ada diluar diri kita. Lalu mengelola dan mendaya-fungsikannya bagi pertumbuhan dan perkembangan kemampuan kita seperti tertulis Be like newborn babies, always thirsty for the pure spiritual milk, so that by drinking it, you may grow up and be saved. 1Peter 2:2

Sesungguhnya belajar bukan sekedar membuka diri untuk menerima dan mengikuti setiap masukan (informasi, ide, gagasan, pengetahuan dan nilai) saja. Tetapi harus melakukan atau mempraktekan semua yang dipelajari seperti tertera dalam ayat suci:  Put into practice what you learned, what you learned and received from me; both from my words and from my actions. Philippians 4:9
Namun satu hal yang harus menjadi perhatian utama dalam belajar adalah janganlah belajar dari pribadi, tempat atau situasi yang dapat menjerumuskan dan menyesatkan seperti tertulis: If you touch tar, it will stick to you and if you keep company with arrogant people, you will come to be just like them-Sirach 13:1

Bagaimana Mengasah (Gergaji) Diri

Setiap orang tidak ingin menjadi pribadi yang biasa-biasa saja, tetapi senantiasa berusaha membentuk dan memberdayakan dirinya guna melakukan sesuatu dengan lebih baik. Tujuannya untuk menunjukkan diri berbeda dan lebih baik dari orang lain dalam pemikiran, konsep, tindakan, kebiasaan dan teladan yang berwujud dalam suatu keahlian tertentu. Keahlian yang dimiliki akan berperan dalam melaksanakan atau mengeksekusi sesuatu (pekerjaan) secara tepat. Yakni tepat sasaran, tepat waktu, tepat hasil dan tepat guna bagi kehidupan. Keahlian eksekusi inilah yang dianalogikan dengan istilah kemampuan “Mengasah Gergaji.”

Musashi, seorang Samurai berpendapat kemampuan eksekusi adalah “keahlian yang dimiliki seseorang untuk menjalankan sebuah tindakan yang tepat, pada saat yang tepat.” Untuk apa? Untuk meraih sebuah sasaran yang tepat (do a proper action in a proper time).
Bagaimana dan dari mana kita bisa mengasah (Gergaji) Diri atau meningkatkan keahlian eksekusi itu?  Mulanya kita harus mengisi diri dengan ilmu, pengetahuan, ketrampilan dan nilai melalui belajar, praktek dan pengelaman. Kita juga dapt mengisi diri dengan membangun hubungan baik dengan diri maupun orang lain.

Ada beberapa pelajaran yang menolong setiap pribadi mengasah gergajinya. Mari kita belajar mengasah (Gergaji) Diri dengan berpedoman pada rujukan pembelajaran dibawah ini:

Pelajaran Mengasah Gergaji (Diri)

Seperti yang diuraikan diatas bahwa setiap orang bercita-cita menjadi pribadi yang luar biasa. Karena itu ia senantiasa berusaha membentuk dan memberdayakan dirinya guna melakukan sesuatu dengan lebih baik. Tujuannya untuk menunjukkan diri berbeda dan lebih baik dari orang lain. Perbedaan yang dimiliki seseorang biasanya dinyatakan melalui suatu keahlian tertentu. Setiap keahlian yang telah dimiliki akan terus diasah atau ditingkatkan guna mencapai cita-citanya. Hal Mengasah Diri dapat dilakukan tepat seperti diuraikan dalam pelajaran-pelajaran bernilai berikut:
a.       Conceptual Learning
b.       Practical Learning
c.        Technical Learning
d.       Intra-personal relationship Learning
e.        Interpersonal relationship Learning

A. Belajar Mempraktekan Konsep (Conceptual Learning)

Sejak awal-mula, manusia sudah mengetahui bahwa ia diciptakan seturut gambaran dan citra Pencipta (Yahwe). Sebagai wakil pencipta, manusia diberi peran untuk mengelola dan membudi-dayakan Alam Raya dan segala isinya. Tugas dan tanggung jawab ini tak asal diberikan karena, Tuhan sudah menganugerahinya dengan Akal Budi. Akal Budi adalah sebuah anugrah yang memberi manusia kemampuan untuk menerima, menyimpan dan mengelola informasi tentang siapa penciptanya, siapa dirinya, dan apa tugasnya, serta bagaimana menjalankan tugas yang diberikan pencipta. Dan yang terpenting dari semua itu, ia mengetahui ia dapat menjadi APA dan APA yang akan diperoleh dari tugas yang ia jalankan tersebut.

Akal budi membuat manusia tidak dapat melakukan segala sesuatu (tugasnya) secara asal. Manusia akan terlebih dahulu berpikir, berpikir dan berpikir berkali-kali, baru melakukan sekali. Tetapi tidak sebaliknya melakukan sesuatu berulang-ulang baru memikirkan cara/strateginya saat menemui hambatan. Artinya, manusia akan terlebih dahulu merumuskan apa yang akan dikerjakan, lalu ia memikirkan cara mengerjakan sasaran yang sudah dirumuskan dan selanjutnya ia dapat melakukan tepat sesuai cara yang telah dipikirkan.

Ini menunjukkan bahwa, Manusia akan terlebih dahulu melakukan sebuah analisis, gambaran dan juga pertimbangan tentang apa yang akan dikerjakan dalam sebuah perencanaan dan yang terumus dalam sebuah konsep yang matang seperti tertulis dalam ayat suci berikut: “Planning and thought lie behind everything that is done” – Sirach 37:16.
Merujuk pada sabda ilahi diatas, Conceptual Learning bukanlah sebuah hal baru. Tetapi sudah menjadi sebuah formula rohani yang dapat mendorong terciptanya sebuah keberhasilan. Artinya, apapun pekerjaan yang akan dikerjakan harus diawali dari sebuah pemikiran. Dan apapun perbuatan (bagaimana melakukannya) harus didasari pertimbangan. Pernyataan ini memberi pencerahan bahwa konsep adalah awal dari sebuah keberhasilan dan akan menolong Anda berprestasi dalam dunia yang penuh persaingan ini. Sebab tanpa konsep yang jelas dan tepat, Anda ibarat berada dalam sebuah rimba belantara; tidak tahu dari arah mana Anda telah datang/masuk dan ke arah mana Anda akan keluar/tuju.

Kesimpulannya bahwa Conceptual Learning akan mengarahkan pada sebuah Motifasi dan Kesungguhan. Jika pekerjaan yang didasarkan pada sebuah motivasi yang baik dalam sebuah kesungguhan hati yang dalam, maka sekecil apapun pekerjaan yang dipercayakan kepada anda akan meningkatkan kualitas diri bagi pelaksanaan pekerjaan yang lebih besar. Sedangkan kesungguhan mutlak diperlukan tetapi kesungguhan hanya tercipta jika anda mencintai pekerjaan itu. Cinta pada pekerjaan akan melahirkan Hati yang Berkepenuhan dalam Suka-Cita. Selanjutnya bahwa Hati yang penuh suka-cita memiliki cukup Rasa Syukur untuk menyongsong keberhasilan yang anda idam-idamkan.

Dengan Kesungguhan dan Suka-Cita, anda tidak akan bertanya untuk siapa anda belajar atau bekerja. Melainkan belajar atau bekerja adalah sebuah bentuk keterlibatan mulia dalam karya keselamatan seperti tertulis dalam ayat suci: Whatever you do, work at it with all your hearts as though you were working for the Lord and not for men. Colossians 3: 23
Selanjutnya Rasa Syukur akan membantu anda menempatkan asas KEGUNAAN/MANFAAT sebagai prioritas dari setiap hasil yang anda peroleh. Artinya anda akan memanfaatkan sebaik-baiknya apapun hasil yang diperoleh dari belajar atau bekerja bagi diri, orang lain dan juga lingkungan.

B. Belajar Mengkonsepkan Praktek (Practical Learning)

The excellence is not an action, but habitual – Aristotle.

Kita telah belajar bagaimana mempraktekan konsep (conceptual learning). Kali ini kita akan belajar bagaimana mengkonsepkan praktek (practical learning).
Seseorang akan belajar dan terus belajar guna mendapatkan sebuah ketrampilan tertentu. Setelah itu dia akan terus menekuni ketrampilan tersebut hingga benar-benar dikuasainya. Penguasaan sebuah 

Ketrampilan tidak diperoleh dalam sekejab, tetapi melalui serangkaian praktek yang berlangsung terus-menerus (pembiasaan) dalam waktu yang lama.
Stenberg, seorang psikolog dari Yale University, menemukan bahwa kumpulan dari praktek yang kita jalankan setiap hari memberikan sebuah tacit knowledge atau pengetahua naluriah. Tacit knowledge ini sangat membantu seseorang mengusai pekerjaan yang sedang dijalani.
 
Sebagai gambaran Prof Steinberg memberi contoh bahwa seorang sopir akan sangat ahli dalam mengemudi dan penguasaan jalan bukan karena kecerdasannya saat kursus montir, tapi karena ia telah berpraktek, praktek dan praktek. Praktek itu tentunya tak dijalankan sebagai suatu rutinitas belaka. Tetapi praktek tersebut disisipi dengan ide baru, kreatifitas dan innovasi yang mendukung. Praktek yang demikian dapat berbuah keberhasilan.
Keberhasilan diterima sebagai buah berpraktek, praktek dan praktek diperkuat oleh Ted Williams dengan mengatakan: “Orang selalu berkata bahwa bakat dan kejelian saya yang menjadi alasan kesuksesan saya. Mereka tidak pernah berkata tentang praktek, praktek dan praktek yang saya jalankan.

’Practice make Perfect!’ Tidak keliru orang mengatakan demikian karena Praktek tidak hanya menolong untuk mengingat kembali semua hal (teori+latihan) yang telah dipelajari. Tetapi juga dapat membuat kecerdasan dan keahlian bertambah. Mengapa? Karena praktek akan menghasilkan pengetahuan yang bisa digunakan untuk me-recall apa telah dipelajari, mempertajam naluri dan memperkuat ketahanan serta memperbaiki bobot keputusan. Sebagai contoh, seorang siswa mustahil menguasai pembelajaran Bahasa Asing atau Aljabar jikalau dia hanya membaca teori atau rumus saja. Untuk bisa berbicara dalam Bahasa Inggris, dia harus berpraktek berbicara. Demikian juga untuk menyelesaikan sebuah soal Aljabar, dia harus praktek memecahkan rumus-rumusnya. Dengan demikian, praktek atau belajar berkelanjutan memampukan pembelajar mencapai hasil yang lebih sempurna.

Praktek dan Tantangan

Praktek yang tekun menghasilkan keahlian dan keahlian akan menghasilkan keberhasilan dan profesionalisme. Namun tak ada keberhasilan dan profesionalisme yang datang tanpa melewati hambatan dan tantangan.
Setiap tantangan dapat datang dengan dua tujuan saling bertentangan. Ada tantangan yang menghancurkan tetapi ada juga tantangan yang menguatkan. Semua itu bergantung bagaimana anda bereaksi untuk menyikapi dan menghadapi tantangan itu. Tuhan itu Maha baik, Ia memberi tantangan sekaligus jalan keluar. Oleh karena itu, janganlah lari, karena setiap Tantangan yang direaksi dengan proporsional akan melahirkan ketekunan, ketekunan memberi tahan uji, tahan uji mendatangkan peneguhan Tuhan dan peneguhan Tuhan menciptakan harapan yang tidak mengecewakan-Rome 5:1-5

Ada bermacam-macam tantangan yang menghambat pekerjaan anda seperti diuraikan berikut ini. Oleh karena itu, siapkan diri untuk bangkit dan hadapi Tantangan tersebut dengan:
1.      Jika tantangan itu adalah Penguasaan Ilmu, Pengetahuan, Technology, Ketrampilan atau Nilai, maka anda harus perlu belajar dan belajar lagi; teristimewa belajar dari mereka yang sudah lebih dahulu tahu. Jeannette Vos menyarankan untuk menambah keahlian teknis dan keahlian profesional yang ingin kita kuasai, sebaiknya kita perlu belajar dari orang lain yang sudah bisa. Ada ayat suci berbunyi: People learn from one another just as iron sharpens iron -Proverb 27:17. Belajar dapat memperbesar kapasitas diri.

2.      Jika tantangan itu adalah Ejekan, cemoohan, fitnah dan caci maki lainnya, maka luangkanlah sedikit waktu anda untuk merenung, merekoleksi diri dan bertanya pada diri mengapa tejadi semua itu. Lalu ambillah pelajaran dan hikmahnya untuk berbenah diri. Namun yang lebih bermakna adalah bangunlah sebuah hati yang penuh syukur, tetaplah berbuat baik dan lakukan perintah Tuhan: Cintailah musuh-musuhmu dan doakanlah mereka yang menganiaya mu-Mateus 5:44. Sebab hanya Pohon yang berbuah manis yang selalu dilempari batu, demikian kata Kahlil Gibran.

3.      Jika tantangan itu adalah Kegagalah, maka pelajari, temukan dan perbaiki cara-cara penyebab kegagalan itu, lalu mencoba lagi. Artinya, jadikanlah semua kegagalan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan diri.
Setiap Tantangan yang anda terima dan jalani dengan keteguhan hati akan memberdayakan anda untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih kuat, lebih kokoh, lebih tangguh dan lebih hebat. Penemu hebat Thomas Alfa Edison juga mengalami tantangan praktek sampai 9.999 kegagalan, namun reaksinya saat ditanya tentang kegagalan 10.000 adalah: “saya baru saja menemukan 10.000 cara baru yang belum bisa bekerja secara optimal.”
Sesungguhnya, tanpa tantangan seseorang tidak akan pernah bertumbuh menjadi lebih baik, lebih kuat untuk menemukan jalan keluar yang lebih baik. Setiap orang yang berani menerima tantangan adalah orang yang sedang menaikan bobot kepribadiannya (kualitas diri) ke level yang lebih tinggi. Oleh karena itu, Aristotle berpendapat: Kehebatan adalah buah dari ketekunan dalam tidakan-tindakan yang telah menjelma menjadi sebuah kebiasan yang baik (Excellence is not an action only but habitual).

Tantangan yang Anda hadapi bukanlah sebuah kesia-siaan. Terimalah dan kerjakan setiap tantangan dengan sungguh dan tekun karena Tuhan telah menetapkannya sebagai jalan menuju keberhasilan seperti kutipan suci berikut: Trials result in ability to endurance; Endurance carries you all the way without failing. – James 1: 2 – 3 and 1Corinthians 10: 13

Guna mengatasi segala persoalan dan merebut sasaran kita, kita hanya membutuhkan ketekunan; tekun dalam mengunakan pengetahuan, ketrampilan dan nilai yang kita memiliki. Tekun untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki-bandingkan Ibrani 10:36. Demikian, Orison Swett menyimpulkan: Semua yang telah anda raih bukanlah ukuran bagi Kesuksesan anda. Kesuksesan hanya diukur oleh perlawananmu terhadap tantangan yang kamu hadapi; oleh keberanianmu tetap berjuang melawan hambatan yang menghadang.

Dengan apa kita dapat meningkatkan kemampuan dalam mempraktekan konsep? Seperti halnya seorang sopir, kita dapat meningkatkan kemampuan praktek dengan memperbanyak praktek atau mempraktekan konsep yang telah kita buat. Emile Chartier berkata “Tidak ada yang lebih membahayakan bagi manusia jika yang ia miliki hanya ide semata (ide tanpa praktek).”
Praktek dan berpraktek bukanlah sesuatu hal yang membosankan. Setiap praktek yang dikerjakan dengan sepenuh hati tidak akan berakhir dengan hampa. Tuhan maha pengasih dan penyayang selalu melimpahkan berkat dan anugrahNya kepada setiap umat yang tidak berpangku tangan seperti disabdakan berikut: “For God will reward every person according to what he has done. Some people keep on doing good and seek glory, honor and immortal life. To them God will give eternal life.” – Rome 2: 6 – 7

Sesungguhnya mempraktekan atau mengerjakan apa yang kita konsepkan merupakan wujud tanggung jawab terhadap Tuhan. Tuhan terus berkarya dan melalui praktek (berkerja) yang kita tekuni, Tuhan telah menyertakan kita dalam keberlangsungan karyaNya di Bumi. Dan karena itu, kita akan mendapatkan anugrah berupa kesejahteraan dan kebahagian seperti disabdakan berikut: Your work will provide for your needs; you will be happy and prosperous – Proverb 128: 2

C. Belajar meningkatkan Kecakapan Skill/Teknik (Technical Learning)

Tuhan telah menetapkan segala sesuatu indah pada waktunya dan manusia telah diberi kecakapan untuk membaca tanda-tanda Tuhan di Alam dan menerapkannya dalam hidup.
Seorang pelaut tradisional dapat mengarungi samudra raya dan bisa sampai di pelabuhan tujuan karena ia cakap membaca tanda-tanda langit (Astronomi). Seorang petani tahu waktu yang tepat untuk membuka lahan, menabur dan menuai. Ia pandai membaca tanda-tanda musim.

Dalam dunia Pendidikan atau dunia Kerja misalnya, kita membutuhkan alat-alat tertentu untuk mempermudah pembelajaran atau pekerjaan, maka kitapun harus pandai/terampil mengunakan alat-alat tersebut. Misalnya, seorang siswa harus memiliki Buku dan alat tulis-menulis, sedangkan seorang karyawan pabrik harus paham mengoperasikan mesin produksi. Seorang clerk harus pandai membuat laporan, mengunakan computer dan Internet. Penguasaan correspondence serta peningkatan distinctive capabilities seperti leadership, teamwork, process, tacit knowledge, adalah keharusaan saat ini bagi seorang pekerja.  

Intinya, setiap pekerjaan membutuhkan peralatan dan peralatan membutuhkan skill-tertentu. Skill itu harus dikenali, dipelajari dan dikuasai oleh setiap Pelaku. Tanpa skill yang memadai, hasil yang didapat tidak maksimal. Jika kita hanya memiliki skill yang biasa-biasa saja, sulit bagi kita untuk mendapatkan hasil lebih baik atau posisi lebih tinggi, bukan?

Skill Kerja:

Setiap pekerjaan menuntut ketrampilan atau keahlian tertentu dan ketrampilan/keahlian tersebut menuntut untuk dipelajari. Belajar dan berusahalah senantiasa untuk meningkatkan skill anda agar pekerjaan anda dapat menghasilkan maksimal. Ada beberapa skill yang perlu kita miliki, pelajari, kuasai dan tambahkan dalam pekerjaan antara lain:
1.      Conceptual Skill: bagaimana mengkonsepkan pekerjaan
2.      Technical Skill: bagaimana menjalankan alat yang dibutuhkan pekerjaan
3.      Practical Skill: skill yang akan meningkatkan kemampuan, yakni skill yang hanya bisa diasah dengan cara banyak melakukan praktek
4.      Communication Skill: bagaimana membahasakan atau menyampaikan pesan dari suatu konsep, proses, pekerjaan atau sasaran yang akan dieksekusi

Apakah anda sudah melengkapi diri dengan skill atau teknik yang dibutuhkan pekerjaan anda?
Beberapa skill seperti tersebut diatas sangat bermanfaat karena dapat menolong seseorang untuk bertumbuh dan memiliki antara lain:
1.      Berpikiran besar & positif dan memiliki kemampuan untuk merumuskan dan menyampaikan hasil olah pikirannya secara sistematis dan teratur
2.      Memiliki daya konseptualisasi yang baik terhadap sebuah sasaran
3.      Memiliki kemampuan pengumpulan dan penguasaan data yang baik
4.      Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dalam membahasakan atau menyampaikan pesan dari suatu konsep, proses, pekerjaan atau sasaran yang akan dieksekusi
5.      Mempunyai emosi yang terlatih, tenang dan seimbang sehingga tumbuh sebuah temperamen yang tenang dan jernih dalam menghadapi semua situasi, bahkan yang tersulit sekalipun.
Para pakar berkesimpulan bahwa semakin banyak dan semakin baik skill yang kita miliki dan kuasai, kita akan semakin powerful. Dalam dunia industri satu mesin dapat mengantikan 100 orang berskill biasa-biasa saja, tetapi peran satu orang yang sangat skillful tidak bisa tergantikan oleh beberapa mesin tercanggih sekalipun.
Oleh karena itu, pusatkan diri pada peningkatan skill (kemampuan) Anda yang unik seperti dalam kepemimpinan, teamwork, process, pengetahuan naluriah, dan lain-lain yang mustahil tergantikan atau tersaingi.

Stephen Convey & Zig Ziglar pernah mengatakan bahwa jika kita menggunakan cara yang sama dalam melakukan sesuatu atau melakukan hal yang sama berulang-ulang, janganlah kita mengharapkan hasil yang berbeda. Jika kita menggunakan cara yang sama dalam melakukan sesuatu atau melakukan hal yang sama berulang-ulang, tetapi kita mengharapkan hasil yang berbeda, berarti kita sudah terserang virus “Insanity.”

Jadi jelaslah bahwa skill adalah modal kerja yang sangat penting, sebab dalam praktek hidup, bukan jenis pekerjaan yang membuat nasib kita berubah (karier kita naik, turun atau tetap) melainkan kualitas dalam menangani pekerjaan itu (how well we are doing). Seseorang dapat menjadi sukses, bahagia, sejahtera dan mulia dalam hidupnya bukan karena pekerjaan atau jabatannya tetapi oleh bagaimana ia mengerjakan pekerjaannya.

D. Belajar Membangun Hubungan

“To handle yourself, use your head; to handle others, use your hearth.” – Donald Laird
Orang kebanyakan sering memfonis Kesalahan orang lain sebagai Pelanggaran, karena itu setiap Pelanggaran harus dikenai hukuman. Ini terjadi karena mereko memosikan diri sebagai Kepala dan umumnya seorang Kepala jarang mau mencari tahu mengapa sebuah kesalahan bisa terjadi. Sebaliknya seorang Pemimpin akan melihat sebuah kesalahan sebagai suatu masalah yang harus dicarikan solusinya. Solusi dari sebuah kesalahan adalah kesempatan yang memotivasi dan meneguhkan dan menyadarkan orang yang bersalah memahami bahwa dia sebetulnya belum mampu berbuat secara benar.
Menghukum atau memotivasi seseorang hanya bias terjadi jika telah terjalin suatu hubungan. Sebuah hubungan dibangun untuk berinteraksi dan berkomunikasi, baik dengan diri maupun dengan orang lain.
Proses berhubungan, berkomunikasi dan berinteraksi dengan diri atau orang lain menuntut sebuah kemampuan yang melibatkan kecerdasan Intelek (IQ) untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, nalar dan logika. Kemudian kecerdasan Emosi (EQ) untuk memberdayakan seseorang dalam mengelola hubungan secara seimbang dan harmonis dengan diri sendiri maupun dengan diri, orang lain dan alam. Ketika kecerdasan Intelektual (keahlian) meningkat, maka Emosi akan menghasilkan kualitas diri yang baik untuk menerapkan keahlian. Dan selanjutnya Kepekaan Hati akan meleburkan keahlian (intelek) dan kualitas diri (emosi) dalam sebuah sikap dan tingkah laku yang penuh keyakinan, harapan, simpati dan empati.

Namun, setiap hubungan baru dapat memiliki makna mendalam jika ada kadar Keintiman yang cukup bagi diri, dan juga Intim dengan orang lain. Menurut Robert Alberti dan Michael Emmons, Keintiman adalah kualitas hubungan antara dua orang yang sangat peduli terhadap satu sama lain yang diwarnai oleh 6 dimensi “PENERIMAAN seperti dalam akronim ACCEPT berikut:
A.    Attraction : Ada daya tarik terhadap satu sama lain
C.     Communication : Terbangun komunikasi yang terbuka dan jujur
C.     Commitment : Ada komitmen bagi adanya kelangsungan kemitraan
E.     Enjoyment : Ada kenikmatan dari kehidupan mereka bersama; kenikmatan yang sejalan dalam memiliki…….(tujuan)
P.      Purpose : Tujuan yang jelas bagi hubungan yang dibangun dan saling ……(percaya)
T.      Trust : Percaya diantara mereka atas dasar saling menghormati dan menghargai satu sama lain

Kecukupan kandungan ACCEPT (Attraction, Communication, Commitment, Enjoyment, Purpose and Trust) dalam sebuah hubungan dapat menghasilkan sebuah hubungan dengan kualitas yang menyukakan jiwa dan menyenangkan hati baik manusia maupun Tuhan sendiri seperti yang dilukiskan dalam ayat suci Sirak 25: 1: Tiga hal yang disukai jiwaku; Manusia dan Tuhan pun berkenan adalah:
1.      Kerukunan diantara Saudara
2.      Keakraban diantara Sahabat
3.      Keharmonisan dan keserasian diantara Suami-Istri (Keluarga)

Ada dua bangun hubungan yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan seseorang; bangun hungun dalam diri dan hubungan dengan orang lain.

Belajar Membangun Hubungan Dalam Diri (Intrapersonal relationship)

Sesungguhnya tidak ada hubungan yang paling penting dan paling intim dalam hidup, selain membangun hubungan dengan diri. Tujuannya untuk mengkomunikasikan semua harapan dan tujuan yang akan dicapai. Tanpa berkomunikasi dengan diri, maka Hati/Jiwa/Roh kita tak akan mungkin menghasilkan pikiran cemerlang dan emosi yang tenang untuk menetapkan sebuah saasran, merancang cara/strategi dan dan melakukan tepat seperti cara /strategi guna meraih sasarannya.

Membangun hubungan dengan diri berarti berbuat sesuatu bagi diri, dan perbuatan pada diri itu haruslah berlandaskan kasih dan peneguhan bukan merendahkan, menghakimi, menakuti, membohongi atau mencederai. Sebab kemalangan terbesar manusia sesungguhnya adalah rasa merendahkan diri. Sebab tidak akan ada rasa hormat yang akan anda terima jikalau anda sendiri tidak memilikinya bagi diri sendiri seperti tertulis: There is no excuse for a person to run himself down. No one respects a person who has no respect for himself -Sirach 10:29

Anda mungkin ingin mendedikasikan hidup untuk berbuat sesuatu bagi orang lain atau anda ingin memberi, dan melayani. Namun pastikan anda sudah terlebih dahulu ‘berbuat, memberi, dan melayani diri atau memperbesar kapasitas diri sendiri. Karena jika tidak, anda hanya akan memiliki sedikit sesuatu, sedikit kemampuan, atau sedikit kapasitas untuk diberikan atau diperbuat bagi orang lain. Contoh: Anda baru bisa memberi atau mengajari sesuatu (materi, ilmu, pengetahuan, ketrampilan atau nilai) jika anda sudah terlebih dahulu memiliki atau mempelajarinya bagi diri anda.

Orang yang mampu membangun hubungan dengan dirinya akan berhasil merebut peluang. Oleh Dr. John Max Well, orang yang berhasil merebut peluang untuk maju memiliki kualitas sebagai berikut:
1.      Intuitive : Mampu melihat kedalam diri dan dapat menghasilkan ketajaman intuisi.
2.      Communicative: Mampu memperluas jaringan kerja sama karena memiliki skill komunikasi yang baik.
3.      Passion : Memiliki self motivated yang baik untuk dapat memacu diri. Memiliki daya dorong keluar yang kuat dari dalam dirinya
4.      Talented : Mampu menemukan, mengembangkan dan cakap menggunakan potensi/bakatnya dengan optimal
5.      Creative : Mampu mengolah hal-hal biasa menjadi luar biasa, mengubah sesuatu yang lama menjadi baru. Atau mampu menemukan sesuatu yang baru.
6.      Initiative : Memiliki kapasitas untuk melihat sesuatu yang perlu dilakukan bagi kemajuan. Kaya Prakarsa
7.      Sense of Responsibility : Memiliki kesadaran bertanggung jawab lebih besar untuk memperbaiki diri.angun hubungan dengan dirinya akan berhasil merebut peluang.

Namun, darimana membangun dan mengelola sebuah hubungan berkualitas dalam diri yang dapat menciptakan sebuah keharmonisan?  Mari kita memulai hubungan dengan diri dengan melaksanakan langkah-langkah berikut:
1.      Mulailah dari diri sendiri dengan sikap dan tindakan:
a.       Menghormati dan Menerima diri: Bangunlah hubungan yang dapat menerima diri sepenuhnya berlandaskan kasih dan peneguhan bukan merendahkan, menghakimi, menakuti, membohongi atau mencederai. Hubungan demikian akan terbangun dalam hari-hari anda jikalau anda mengwali hari Anda dengan kasih, mengisinya dengan kasih dan mengakhirinya dengan syukur. Menerima diri berarti menempatkan diri pada posisi terhormat namun tetap rendah hati. Menerima diri berarti menghargai diri sesuai nilai kebenaran hakiki yang terbangun dalam diri, seperti tertulis dalam ayat suci:
Son, keep yourself respect, but remain modest. Value yourself at your true worth-Sirach 10:28

b.      Ciptakan sebuah kenyamanan diri sehingga ia (diri) mampu menerima diri seutuhnya (apa adanya). Tujuannya untuk memperbaiki, menyempurnakan dan mengubah ke arah lebih baik. Demikian J Campell menyimpulkan “Paradoks kehidupan yang sering saya rasakan adalah menerima keadaan diri apa adanya dan barulah saya mengubahnya.” Sedangkan Lowell berkesimpulan “Prestasi besar tidak bisa dihasilkan oleh orang yang tidak bisa menerima diri secara utuh.” Sebab kemalangan terbesar manusia sesungguhnya adalah rasa merendahkan diri. Sebab tidak akan ada rasa hormat yang akan anda terima jikalau anda sendiri tidak memilikinya bagi diri sendiri seperti tertulis: There is no excuse for a person to run himself down. No one respects a person who has no respect for himself -Sirach 10:29

c.    Pastikan semua yang anda lakukan dapat senantiasa memenuhi hati Anda dengan suka-cita dan membuat hati Anda selalu bersyukur dalam segala hal dan situasi. Ini adalah perintah Tuhan bagi mereka yang ingin hadirat Tuhan ada dalam diri mereka.  Be joyful always, pray at all times. Be thankful in all circumstances. This is what God wants from you in your life in union with Jesus Christ. - 2Thessalonians 5:16-18  Hati yang bersyukur tak hanya berkelimpahan dalam kasih, tetapi juga mampu melepaskan pengampunan dan berbagi dalam suka maupun duka. Hati bersyukur mampu mengubah penderitaan menjadi kebahagian dan bertekad menghadapi tantangan yang lebih besar. Kitalah yang harus lebih dahulu menciptakan keharmonisan dengan berbuat pada diri yang dilandaskan pada cinta dan kasih dan itu adalah perintah yang Tuhan seperti tercatat: “Do ourselves a favor and learn all we can; then remember or do what we learn and we will prosper.” – proverb 19:8.

Demikian juga Mahatma Gandhi berpesan “ketika putus asa, saya selalu ingat bahwa dalam sejarah, jalan yang ditempuh dengan kebenaran dan cinta selalu menang. Ada beberapa tirani dan pembunuh yang sepintas seperti pemenang, akhirnya kalah. Pikirkan SELALU ucapan saya ini.”

2.      Jadilah Pemimpin Diri dengan sikap dan tindakan:
Sebagai pemimpin diri, kita berperan menyadarkan diri untuk mengikuti kehendak diri yang baik. Juga bertugas untuk menciptakan perubahan penting dan konstruktif. Pemimpin diri tidak membiarkan diri dikontrol tapi mampu mengendalikan diri saat ada pencobaan. Orang yang tak bisa mengendalikan diri dengan baik umumnya tak mampu menggunakan akal sehat, ilmu pengetahuan, pengalaman dan kesadaran yang dimiliki guna bangkit lagi dengan cara yang lebih baik. Seorang pemimpin diri biasanya memiliki kualitas berikut:
a.       Sabar. Orang yang tergesa-gesa sering menyebabkan kekacauan dalam tugas. Hasil yang didapat tidak optimal baik dalam kuantitas maupun kualitas. Kesabaran adalah perintah Tuhan yang harus kita patuhi karena memampukan seseorang untuk hidup teratur dan tekun dalam tugas serta mampu mengendalikan situasi seperti di firmankan: “It is better to be patient than powerful; it is better to win control over yourself than over the whole country.” – Proverb 16:32. jug abaca Ibrani 10:36

Terinspirasi oleh Proverb 16:32 jug Ibrani 10:36, Benjamin Franklyn, mantan Presiden USA mengatakan: “untuk menjadi orang jenius dibidang kita, kita dituntut satu bakat yang ia sebut bakat SABAR. Sehebat apapun kemampuan/bakat alamiah anda, tak akan memberi keuntungan jika anda tidak SABAR memperjuangkan, mengasah dan memberdayakannya.”
Sabar akan membuat hati, pikiran, emosi dan tindakan akan menjadi selaras. Selaras untuk merencanakan dan sabar untuk melakukannya maka kita akan mendapatkan hasil lebih optimal seperti tertulis: Plan carefully and you will have plenty; if you act too quickly, you will never have enough-Proverb 21:5 Sedangkan Einstein berbagi pengalaman bahwa: “Tidak ada karya hebat yang lahir dari seseorang yang sedang dilanda kegundahan.”

Artinya, Kegundahan Hati hanya akan meningkatkan kebimbangan dan kebimbangan hanya akan mengkerdilkan daya pikir, dan mengikis rasa percaya diri sehingga anda tak akan mampu untuk mengambil keputusan guna melakukan sesuatu yang lebih besar. Kegundahan membuat anda tak akan memperoleh apa-apa dari apa yang anda impikan, harapkan dan rencanakan seperti tertulis: ………whoever doubts is like a wave in the Sea that is driven and blown about by the wind. A person like that unable to make up his mind and undecided in all he does; he must not think that he will receive anything from the Lord. James 1:6b,7-8

b.      Sadar Diri.
Dengan mengenal diri, kita mampu mengenal diri orang lain, mempengaruhi, berbagi pengalaman dan menginspirasi mereka. Orang yang sadar diri adalah orang yang memiliki harapan dan tujuan hidup. Ia menetapkan target-target yang harus dicapai (mau jadi apa atau mau memiliki apa) pada waktu yang ditetapkan. Orang sadar diri akan melengkapi diri dengan pengetahuan, cara dan strategi untuk mencapai tujuanya. Ia akan selalu belajar untuk menghadapi tantangan lebih besar dan ia mampu dengan cepat mengeluarkan diri dalam putus asa, trauma dan kepahitan tak akan meracuni batinnya saat gagal.

Sebaliknya orang yang lupa diri tidak memiliki kemampuan untuk mengenali dan mengembangkan kemampuan diri. Ia tidak peka terhadap suara hati serta menghakimi diri tidak berarti seperti rujukan suci berikut:  “I do not understand what I do; for I do not do what I would like to do but instead I do what I hate” – Rome 7:15.

Senada sabda diatas, Ronggowarsito mengingatkan bahwa “seuntung-untung orang yang lupa diri tak mungkin lebih untung daripada orang yang sadar diri”. Sedangkan dari Doktrin Samurai kita belajar bahwa “jika hubungan kita dengan diri sendiri kacau, teknik/senjata yang benarpun tidak akan bekerja dengan benar.”

Sabda dalam kitab Roma 7:15, doktrin Samurai dan pendapat Ronggowarsito mengispirasi kita bahwa manusia gagal dalam hidup bukan karena kurang kapasitas/kemampuan. Tetapi karena ia kalah mengontrol diri sehingga cendrung melakukan apa yang menjerumuskan yang seharusnya ia benci. Orang sadar diri melihat masalah dan menghindarinya sedangkan orang lupa diri hanya akan menjerumuskan diri seperti rujukan suci:  “Sensible people will see trouble coming and avoid it, but unthinking person will walk right into it and regret it later”- Proverb 22:3

c.   Memiliki harapan.
Orang yang memiliki harapan mengutamakan perbuatan baik (pekerajaan Tuhan) dan tidak cemas terhadap hari esok. Ia fokus pada hari ini sebagai landasan keberhasilan hari esok, namun tak lupa belajar dari hari kemarin. Orang berpengharapan melandaskan semua hidupnya (kata & perbuatan) pada kebenaran, karenanya ia akan menerima dari Tuhan seperti difirmankan berikut: “Be concerned above everything else with the kingdom of God and with what he requires of you and he will provide you with all these other things. So do not worry about tomorrow, it will have enough worries of its own. There is no need to add to the troubles each day brings”.– Mathew 6:33-34

d.      Meraih kemenangan diri terlebih dahulu.
Orang sukses biasanya menerima orang lain dan lingkungan sebagai factor pendukung bagi keberhasilannya. Namun dukungan itu mustahil datang kepada orang yang belum memenangkan diri (tidak siap). Herry S Truman, mantan Preseiden USA mengatakan “semua orang berprestasi di Dunia ini memilikki kesamaan yaitu mereka meraiah kemenangan diri terlebih dahulu baru kemudian meraih prestasi.” Artinya, tak mungkin memaksa keadaan atau orang lain agar mendukung usaha, keberhasilan dan kebahagian kita. Kitalah yang harus bekerja keras terlebih dahulu seperti tertuang dalam firman berikut : “Work hard, don’t be lazy. Serve the Lord with a heart full of devotion. Let your hopes keep you joyful. Be patient in all your troubles and pray all the times” – Rome: 12:11

Belajar Berhubungan dengan Orang Lain (Inter-personal relationship)
 
“You can make more friends in two months by becoming interested in other people than you can have two years by trying to get other people interested in you.” Advised David Carnegie.

Mendapatkan Musuh itu mudah tetapi sulit menemukan seorang Sahabat.
Sebuah hubungan dapat terbangun diantara dua orang atau lebih karena ada sebuah kepercayaan yang tercipta diantara mereka. Sebuah hubungan mustahil terbangun tanpa kepercayaan. Demikianpula sebuah hubungan tak akan memiliki kualitas jika tak ada kadar kepercayaan yang cukup didalamnya.

Hubungan dan Kepercayaan ibarat dua sisi mata uang yang berbeda, tapi tak dapat dipisahkan. Setiap sisi memiliki nilai yang saling melengkapi dan dapat diterima oleh umum, tentu karena telah melekat kepercayaan yang sama terhadap kedua sisi itu.
Orang dapat membangun hubungan didorong oleh keinginan untuk bersoasialisasi, karena melalui soasialisasi, mereka saling mengisi dan melengkapi. Jadi mustahil seseorang ingin hidup menyendiri dan menyepi di suatu tempat terpencil dan juga seseorang tak mungkin hidup bagi diri sendiri.

Oleh karena itu, apapun yang anda sedang dan akan kerjakan, dan apabila itu berkenaan dengan orang lain, maka anda sedang melakukan pekerjaan membangun hubungan.
Hubungan membuat segala sesuatu dapat berproses, berjalan atau terjadi. Misalnya, jika anda sedang mengajar; orang berpendapat anda sedang melakukan kegiatan Mengajar. Mereka bisa saja benar, tetapi anda sebenarnya sedang melakukan kegiatan membangun hubungan. Pengajaran anda hanya bisa terlaksana melalui hubungan yang anda bangun dengan orang lain, bukan? Hal inipun terjadi dalam semua lini kehidupan. Para Siswa sebuah Sekolah dapat melaksanakan pekerjaan mereka (belajar) tentu tak lepas dari sebuah landasan hubungan yang sudah terbangun dalam management Pendidikan. Artinya, keberlangsungan dan juga keberhasilan sebuah usaha tak akan terlepas dari sebuah bangun hubungan dengan keharmonisan yang tercipta didalamnya .

Setiap hubungan memiliki kadar kualitas dan setiap hubungan yang berkualitas mendorong lahirnya keharmonisan. Kualiatas sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh cara membangunnya. Tetapi juga lebih ditentukan oleh kandungan kadar kepercayaan dan  cara mengelolanya.

Manfaat Membangun Hubungan
Setiap hubungan mempunyai tujuan dan manfaat tertentu bagi pribadi-pribadi yang membangunnya. Orang umumnya membangun hubungan dengan orang lain karena tujuan/manfaat berikut:

a.       Melakukan Perbuatan Baik.
Dalam hidup kita temui ada orang yang berhasil dan ada yang gagal. Orang sukses akan mudah membangun hubungan sedangkan orang yang tak beruntung biasanya dimarginalkan. Namun itu tak berlaku bagi orang yang telah bebas dari belenggu harta dan tahta. Mereka menerima orang tak beruntung sebagai anugerah untuk dapat mewujudkan kasih dengan berbagi dalam motifasi, pengajaran, bimbingan dan bahkan materi.

Sebagian dari kita sering hanya mau berbuat baik kepada orang yang bisa menguntungkan atau yang bisa membalas kita kelak. Kita sesungguhnya tak berbeda dari para pecundang, sebab merekapun bisa melakukan hal yang sama. Setiap Perbuatan baik yang bertendensi untuk mendapatkan balasan adalah perbuatan yang dapat menutup saluran Anugrah dari Tuhan, - bandingankan Mateus 5:46.
Berbuat baik sesungguhnya adalah kehendak untuk melayani atas dasar kemurahan hati, persaudaraan dan kasih. Berbuat baik dapat dilakukan kepada siapa saja, teruama yang ditemukan sebagai orang miskin.

Berbuat baik dan saling menolong bukanlah sekedar sebuah kewajiban dan tanggung jawab kita terhadap sesama; tetapi juga merupakan sebuah bakti atau pelayanan kita terhadap Tuhan seperti tercatat dalam ayat suci: Do not forget to do good and to help one another because these are the sacrifices that please God – Hebrew 13:16

Apa tujuan anda menolong sesama? Tujuanya adalah membuat orang lain merasa bernilai dan menjalani hidup lebih baik. Pastikan semua yang anda lakukan bukan untuk memanjakan orang yang kurang beruntung hidupnya atau untuk meringankan beban hidupnya sesaat. Tapi harus benar-benar memberi nilai atau bermanfaat bagi kehidupannya seperti tertulis dalam ayat suci: When you do a good deed, make sure you know who is benefiting from it; then what you do will not be wasted – Sirach 12:1

Artinya, setiap perbuatan anda sedapat mungkin harus merupakan pemicu bagi keberhasilan orang lain. Misalnya, sesamamu miskin karena kurang berpendidikan, maka putuslah rantai kemiskinan itu dengan memberi beasiswa bagi pendidikan anak-anaknya. Sebab dengan pendidikan yang baik, seseorang akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan pekerjaan yang lebih layak dapat memberi penghidupan yang lebih baik.

Berbuat baiklah kepada orang-orang kecil dan lemah; terutama kepada mereka yang hak-haknya dirampas secara tidak adil oleh dunia ini. Tindakan demikian bukanlah sebuah tindakan sia-sia sebab Tuhan sungguh akan melipatkan gandakan upahmu seperti tertulis:
You can be sure that whoever gives even a drink of gold water to one of the least of these my followers because he is my follower, will certainly receive a reward-Mathew 10:42

b.  Menemukan suatu Kenyamanan dari Anda.
Modal untuk memperluas usaha adalah membangun hubungan baik dengan orang lain dan menciptkan sebuah kerja sama didalamnya. Namun, orang baru mau berhubungan dan bekerjasama jika mereka menemukan suatu kenyamanan dari Anda. Oleh karena itu, pastikan bahwa apa yang anda miliki atau tawarkan tidak hanya unik, unggul dan menguntungkan, tapi juga menarik, nyaman dan menyenangkan. Anda harus membuat orang lain penasaran atau bahkan menyesal jika tidak bisa bekerja sama dengan anda atau tak mendapatkan apa yang anda tawarkan.

Misalnya sebagai Guru, anda harus membuat apa yang anda ajar memiliki daya tarik, inspiratif, menyenangkan dan memberi kenyamanan. Anda sedapat mungkin membuat para siswa tidak sekedar mengikuti pengajaran anda dan terlayani dengan baik. Tetapi juga mereka dapat merasa bahwa dengan berhubungan dengan anda, mereka dapat belajar bagaimana saling memberi, melayni dan menghargai dalam sebuah hubungan yang harmonis. Semua ini adalah awal keberhasilan dari keseluruhan proses belajar-mengajar anda. Jadi, jika apa yang anda kerjakan dalam hidup dapat membuat orang lain bahagia, nyaman dan terinspirasi, maka yakinlah bahwa mereka tidak hanya akan berjalan melainkan berlari menemui anda untuk bekerja sama.

c.       Berbagi Tangung Jawab.
Kepercayaan adalah landasan bagi dua atau tiga orang untuk berbagi tanggung jawab. Setiap orang biasanya akan bertindak untuk dan atas nama diri atau orang lain dalam melakukan sesuatu. Dengan kepercayaan kita mudah beriteraksi guna memahami keinginan dan kebutuhan orang lain. Dan juga agar kita mudah mengkomunikasikan value, visi dan misi guna membangun sebuah kerja sama yang lebih besar. Peter Drucker, pakar Management mengatakan bahwa kemampuan mendengarkan keinginan orang lain yang tak terucapkan merupakan pilar utama komunikasi.

Berbagi tanggung jawab dapat dilakukan dengan siapa saja termasuk dengan para karyawan. Menurut Steve Jobs, co-founder of Apple computer, karyawan pintar dan berkompetensi dapat meringankan tanggung jawab management. Tetapi adalah lebih menguntungkan jika sebuah perusahaan dapat mempekerjakan karyawan yang memiliki kepedulian yang sama seperti yang dimiliki management tentang kemajuan perusahaan
Berbagi keuntungan dan tanggung jawab dalam sebuah hubungan dapat membangkitkan semangat dan rasa turut memiliki baik dari orang-orang anda maupun masyarakat sekitar.

d. Menilai Diri
Anda tidak akan mengetahui seberapa besar kemampuan diri hingga Anda menemukan seseorang yang dapat berbuat lebih baik. Orang lain adalah cerminan bagi diri kita dan sebaliknya kita adalah cerminan bagi orang lain. Bruce Lee mengatakan, bekerjasama dengan orang lain akan memperbaiki penilaian diri terhadap keunggulan/kualitas yang kita miliki. Nilai hidup anda hanya akan diukur dari nilai-nilai mereka yang disentuhnya. Orang yang tidak bisa bekerja sama dapat bertumbuh menjadi pribadi yang sombong atau sebaliknya menjadi rendah diri.

e.       Mengembangkan Diri.
Bergaul dengan penjual parfum, kita dapat percikan aroma wangi. Berhubungan dengan pekerja keras, kita akan turut berbagi dalam kesuksesan., tetapi bergaul dengan para pemalas kita hanya akan menyengsarakan diri.

Disadari atau tidak, orang yang kita kenal memberi pengaruh baik atau buruk secara signifikant terhadap pertumbuhan kita. Oleh karena itu kita harus siap menambah nilai diri dari pergaulan itu, bukan sebaliknya terinfeksi sisi negatif dari sebuah pergaulan. Hal itu dinyatakan dalam ayat suci berikut:  If you touch tar, it will stick to you and if you keep company with arrogant people, you will come to be just like them-Sirach 13:1.

Demikian Dahlan Iksan berkata “saya dapat menjadi pengusaha karena tertular pimpinan saya.” Dahlan Iskan bertumbuh menjadi orang sukses dalam usaha dan kepemimpinan karena ia telah belajar dari pimpinannya yang memiliki kepemimpinan dan keteladanan yang luar biasa. Gordon Dryden & DR. Jeannette Vos menyarankan untuk menambah keahlian teknis dan keahlian profesional yang ingin kita kuasai, sebaiknya kita perlu belajar dari orang lain yang sudah bisa.

f.       Menambah Pengetahuan Diri.
Orang gagal engan membangun hubungan atau bekerjasama dengan orang lain. Biasanya orang gagal merasa membangun hubungan hanya akan merugikan dirinya. Sebaliknya orang sukses selalu ingin membangun hubungan dan menempatkannya sebagai tujuan.

Dengan membangun hubungan, orang sukses akan selalu belajar baik dari diri, rekan, advisers, coacher, consultants, team members, suppliers, customers dan competitors. Orang sukses akan selalu belajar pada pribadi, tempat atau situasi yang berperan sebagai sumber pencerahan yang dapat memberi pemahaman, peneguhan (kekuatan) dan pengertian. Orang yang belajar dari sumber yang tepat sesungguhnya akan menemukan dan memiliki kehidupan, mendapatkan tuntunan dan juga damai, hal itu tertuang dalam ayat suci: “Learn where understanding, strength and insight are to be found. Then you will know where to find a long and full life, light to guide you and peace.”-Baruch 3:14

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa setiap pribadi sesungguhnya sudah memiliki Gergaji. Bila diasah dengan baik Gergaji tersebut dapat membentuk diri jadi pribadi yang bermanfaat. Seorang yang bermanfaat harus memiliki Ilmu Pengetahuan guna melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Namun, seorang hanya bisa melakukan pekerjaan dengan baik jika dia mengasah diri melalui belajar, berpraktek dan membangun hubungan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LI AN MOEN ANA ATUK BIJAEL

  LI AN MOEN ANA ATUK BIJAEL 1.      When you are traveling around Timor, especially at the district of north middle Timor, you will be fa...